あしたがいるです!'s avatar

あしたがいるです!

An inspiration comes without single notification

Framework ? Library ?

I, always, am a big fan of simplicity. When I code. When using desktop/phone apps. When designing. Nothing’s more made me complain enough when it’s involve something I see or use like “it’s not that simple”. So I quite often, reinvent the wheel, to make or to use some other simpler.

I love Strong-Types. It’s make a breeze in my dev-life. I love how compiler will complain about your type if it’s a mess. That’s why I love Generic in .Net. You could say, I’m in love with all Generic classes/method. It’s simple to code. Simple to read.

When I give my take to choose which framework will I use, I’ll try ‘em all then I pick with most feature, then simplicity. Nowadays, I even more consider about simplicity. I dunno, maybe Microsoft’s Metro/Modern UI and Flat Design affect me in some ways. That’s why I hate when I had to use my company’s internal framework. They hard to code. With a bunch of feature, they sacrifice developer to make a bunch of config. It’s same for end-user, they had to make a bunch of config before they can use it.

That’s why I choose to make my own framework. No. I prefer to call it work tools or a library. Because it’s just a mere “plug and play” module instead of a framework which one could build something on top of it.

Choosing framework or library to help you in your project, always involving about which feature will make it easier to make that apps, which architecture will fit in your current design, or even which UI is most beautiful. But for me it is their style. The maker’s code style that make it simpler. Just choose one, simple to code but hard to use. Or simple to use but hard to code. Simple for both is even better.

To make many config simpler, I always code with naming convention in mind. You can make my library do something when you name it whit “X” for example. Without checking or storing the config. My library just simply check the naming and do it’s job.

I think naming convention should embraced more.

Rasa

Gue suka manis. Siapa yang gak suka manis. Eh ada ding. Beberapa orang ada yang gak suka manis. Gue suka asem juga. Asin. Tapi gue kurang suka pedes. Ya bukannya gak mau makan yang ada rasa pedesnya. Tapi paling gak, pedes yang gak bikin perut gue mules.

Temen gue bilang gini, “Kepikiran gak sih, kalo sebenernya kita diciptain buat ngerasain semua rasa itu?”. Mulai dari rasa manis ampe pahit yang gak disukain sama orang. Buat apa ada rasa pahit coba kalo gak buat dirasain. Banyak sesuatu yang rasanya pahit justru malah memberi efek baik buat kita.

Kadang suka gak nyadar sendiri kalo sesuatu yang enak pasti ada efek buruknya. Contohnya aja makanan manis. Kalo gak dikontrol, pasti pada kena diabetes. Itu kan kalo berlebihan. Yaudah ganti deh. Sex. Enak gak sih? enak kan? tapi efeknya buruk banget kalo lo ngelakuinnya diluar nikah. Mie instan. Enak. Tapi banyak pengawet. Apa coba yang gak pake pengawet jaman sekarang.

Itu semua yang gue sebutin rasa yang bisa dirasain pake lidah. Atau kalo boleh gue bilang, itu adalah rasa yang keliatan wujudnya. Nah, yang susah adalah rasa yang gak keliatan wujudnya. Rasa apa itu? rasa yang dirasain pake perasaan. Rasa emosional.

Jalan sama temen, itu rasanya seneng. Diputusin pacar, itu rasanya sakit. Buseh deh, apalagi kalo kita yang diputusin. Nyesek banget itu. Trus apa kita malah galau?. Muterin playlist isinya lagu melow yang liriknya sedih-sedihan. Gitu? Dimarahin bos, itu rasanya kesel. Banget. Apalagi kalo bosnya gak tau keadaannya trus maen salah-salahin aja. Trus apa karena kesel trus kita malah ogah-ogahan kerja?. Salah banget. Kalo temen gue bilang sih, “Santai aja, bro. Dinikmati aja”. Yup, dinikmati aja. Kenapa? karena semua rasa itu diciptain buat kita rasain.

Curcol: Kemaren pas gue balik dari puncak, abis acara jalan-jalan sama temen kantor, jalanan ujan. Deres banget. Sudahlah mau magrib karena macet. Ujan deres banget, pake jas ujan aja tembus celana gue. Tangan kaku. Kaki apalagi karena gue pake sendal doang. Apa gue kesel sama keadaan?. Pengennya. Tapi entah kenapa, saat jalan turun dari puncak itu, gue ngerasa seneng. Rasanya udah lama banget gak kena ujan sebegitu deresnya. Ok. Trus kenapa? Saat itu gue juga senyum sambil bersyukur. Sesuatu yang kecil atau suatu keadaan yang bisa bikin kita senyum secara tulus. Lalu mengucap kata syukur. Menurut gue, ini yang namanya bahagia. Rasa yang banyak dicari orang tapi susah banget buat ngedapetinnya.

Cuma gara-gara kata temen gue yang bilang “kita diciptain buat ngerasain itu”. Gue jadi menikmati ujan, dingin, beku. Gue jadi senyum, bersyukur. Ngerasain yang namanya bahagia pas ujan deres digunung. Semua rasa kesel gue, pikiran buruk gue, ilang saat itu juga.

cerita dongeng

Gue sering liat film luar negri gitu. Kalo pas anakny pengen tidur, bapak atau emaknya suka bacain dongeng atau cerita dari buku. Anaknya dengerin ampe ceritany abis, trus tidur. Kalo jaman gue kecil dulu sih di stasiun tv RCTI, sebelom jamannya ada Trans TV, ada acara layar emas. Acaranya muterin film-film keren dari luar negri. Abis nonton layar emas gue baru tidur.

Persamaannya ap?

Buku cerita yang diceritain para bapak luar negri sama cerita film yg gue tonton mungkin nyeritain hal yg sama. Yaitu tentang orang baek yang ngalahin orang jahat. Dengan berbagai tokoh, latar belakang dan masalah utama yg berbeda. Tapi intinya sama.

Ngaruhnya ap?

Menurut lamunan gue, disemua cerita itu, org baek selalu menang lawan orang jahat. Ok, dalem bahasa indo ngaco, biasanya org baeknya itu disebut juga anak muda. Mulai kalimat ini, orang baek yang ada di cerita kita sebut anak muda. Balik lg ke topik, nah, si anak muda ini ada kalanya kalah sama si penjahat. Tapi karena di semua cerita fiksi atau dongeng anak muda selalu menang, entah dibagian tengah atau bagian akhir, si anak muda ini pada akhirnya dapet sesuatu, entah kekuatan, semangat, wangsit, atau apalah yang bisa bikin penjahatnya bertekuk lutut. Bisa jadi dari kekuatan turunan yang sebenernya udah nempel di badan si anak muda cuma dianya gak sadar trus baru sadarnya pas ceritanya mau abis. Atau, bisa jadi ada anak muda jaman dulu yang sekarangnya lagi ngejalanin masa tuanya. Trus karena anak muda jaman sekarang lagi kalah, jadinya yang tua dateng bantuin. Yah macem-macem lah kasusnya.

Tapi, secara gak sadar, cerita itu sebenernya mau bilang sesuatu ke kita, ke anak-anak kita. Kalo kita lagi kesulitan atau kesusahan, masalah apapun yang kita hadapin, jangan nyerah. Jangan putus asa. Tetep bangkit. Pasti ada sesuatu yang pada akhirnya ngebuat kita bisa ngejalanin dan nyelesein masalah kita itu.

Percaya kalo kita bisa itu adalah kekuatan paling besar manusia.

Bahkan sampe detik ini pun, gue masih percaya kalo mario gak pernah nyerah buat nyelametin putri peach dari bowser gendut itu.

Nah, jadi pertanyaannya adalah, yakin gak lo?

Selesaikan! Lalu sempurnakan.
It always seems impossible, until it’s done.

Nelson Mandela

Tak ada kesalahan yang dibenarkan.

kenapa

Dulu sewaktu kita kecil, ketika kita melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat, kita selalu bertanya “yah, kok bisa gitu sih yah?” atau “bu, kenapa pesawat bisa terbang?”. Kenapa begini dan kenapa begitu adalah hal wajar yang selalu kita tanyakan kepada mereka. Karena saat itu kita tidak tau bagaimana sesuatu itu bisa bekerja sehingga kita takjub dan bertanya-tanya.

Pernah suatu ketika, gue lagi naik bus menuju ke Kota, Jakarta Pusat. Ada anak kecil bertanya pada ibunya, kira-kira begini, “Ma, itu apa item-item yang dijalanan?”. Kemudian hening. Tebakan gue, karena ibunya gak tau apa itu. Lalu si anak kecil melanjutkan bertanya, “Ma, ini kita udah dimana ?”. “Di Karet”. “Apa itu Karet, Ma ?”. “Nama jalan”. Masih belum puas, si anak bertanya lagi. Lagi dan lagi. Entah karena malu atau sebel ditanya melulu sama si anak. Akhirnya si ibu bilang. “Jangan berisik ntar dimarahin pak supir”. Dan si anak pun terdiam.

Gue lalu ngelamun, bagus juga si anak ini. Dia bertanya apa yang tidak dia tau. Dan yang paling penting adalah, pertanyaannya hampir selalu kenapa ini begini atau kenapa itu begitu. Dia memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi. “Kenapa” adalah kata yang paling sering dilontarkannya sepanjang perjalanan. Dengan begitu dia bisa tau bagaimana hal-hal aneh diluar logikanya bekerja.

Kadang kita harus meniru cara berpikir anak kecil. Karena mereka selalu semangat untuk mengetahui hal-hal baru. Bertanya jika tidak tau. Atau pun mencoba sendiri demi memuaskan rasa keingintahuan mereka. Tanpa malu tanpa ragu. Semakin kita dewasa, kadang keingintahuan kita berkurang. Atau bahkan yang paling sering adalah malu untuk bertanya. Entah karena takut dibilang ilmunya kurang. Entah memang karena pemalu.

Selain bertanya kita bisa mencari tau lewat berbagai macam media. Jaman sekarang hampir semua media menyediakan informasi. Tapi haruslah pandai-pandai untuk memilah. Karena makin kesini, media malah menyuguhkan informasi sampah. Atau dengan kata lain tidak berguna sama sekali. Media paling populer tentunya adalah buku dan internet. Banyak membaca buku, banyak tau. Buku jendela dunia. Pastinya kita sering mendengar slogan seperti itu. Memang benar. Semakin banyak kita membaca. Semakin banyak kita tau. Karena dengan membaca. Pembaca dapat mengetahui apa yang diketahui oleh penulis. Dan jika ada informasi yang salah, kita bisa menghubungi penulis untuk merevisi tulisannya. Dengan begini komunikasi dua arah pun terjadi. Tidak hanya pembaca yang mendapatkan sesuatu yang baru. Tapi penulis pun mengetahui bahwa tulisannya ada yang salah.

Semakin banyak membaca akhirnya kita pun ingin mengutarakan pendapat sendiri. Dan akhirnya banyak blog bermunculan. Hasil dari pemikiran yang dipengaruhi dari lingkungan sekitar dan bacaan yang pernah kita baca. Sebelum jadi buku, biasanya blog adalah tempat untuk menuliskan segala inspirasi dan pemikiran fresh. Lalu kemudian dengan sistem komentar, pembaca dapat lebih mudah berpendapat tentang tulisan dari penulis. Tulisan-tulisan blog yang menarik biasanya dijadiin buku untuk bisa dinikmati segala kalangan, tak terbatas yang dapat mengakses blog penulis saja. Tanpa sadar, yang dulunya hanya sebagai penyimak, pembaca yang baik. Kini menjadi penulis yang baik. Begitu seterusnya dengan pembaca dari tulisan-tulisan kita. Menjadikan satu ekosistem yang positif untuk kemajuan diri sendiri, orang lain bahkan bangsa dan negara. Hanya dari sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang besar memang dimulai dari yang kecil. Kalimat ini sudah ada lama sekali.

Mari membaca. Mari menulis. Mari bertanya, kenapa.

masa kecil

Masa kecil ini bukan sebuah pertanyaan yang menginterogasi seperti “masa kecil sih itu lo?”, tapi sebuah kata yang membuat gue melayang jauh kembali ke waktu ketika gue kecil. Masih lucu-lucunya. Gak! Gak lucu sama sekali. Karena gue terkenal sebagai anak yang jarang tersenyum. Bukan! Bukan gak bisa. Bukan gak mau juga. Tapi itu lah gue. Gue juga bukan bermaksud untuk memaksa muka gue cemberut mulu. Tapi memang begitu muka gue yang alami. Natural. Hidup go green. Yess!! (apa hubungannya om.. hadehh..).

Saat kita kecil, kita bisa saja bercita-cita secara sepontan cuma gara gara kita kagum pada sesuatu. Gue cukup sering ganti cita-cita karena gue gampang kagum sama sesuatu. Misal, gue bisa aj kagum sama baju polkadot yang suka dipakai penyanyi pop wanita ketika manggung. Trus gue bercita-cita jadi personil boyband yang pake baju polkadot. (an*ing keren mampus).

Kadang kita suka gak sadar, bahwa kekaguman kita terhadap sesuatu itu bisa memberikan energy-boost yang bisa membuat kita melakukan hal lebih dari biasanya. Itulah kenapa anak-anak tidak pernh kelihatan lelah walaupun sudah bermain seharian. Simply, karena mereka gampang kagum. Ada rasa ingin mewujudkannya suatu hari nanti. Tapi semakin umur berjalan, semakin sifat kanak-kanak hilang. Termasuk sifat cepat kagum tersebut. Semua harus dipikir matang-matang. Memperhitungkan untung dan ruginya. Tapi kadang hal itulah yang membuat kita takut melangkah. Takut melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan. Atau sesuatu yang belum pernah dilakukan. Takut mencoba yang belum pasti kelihatan hasilnya. Padahal dulu sewaktu masih kecil, gak pernah ada niatan untuk menjadi ksatria baja hitam tuh. Tapi dengan semangat yang menggebu-gebu gue berlari keluar rumah menyerukan “berubah!”. Gue berharap banget itu akan terjadi beneran. Yess!! That’s a life man! It’s what you dream of. And then achieve it.

Lelet

Apa itu lelet ? Temennya lalat ? Bukanlah. Yang pasti nih, kalo bos lo denger kata lelet. Doi bakalan ngamuk. Pasalnya kalo lo kerja di Project kaya gue, yang namanya kata lelet gak bakal bisa ditolerir. Semua orang pengen cepet. Lama-lama jadi terkesan buru-buru. Dan akhirnya semua orang yang berkerja dalam project itu menjadi “under pressure”. Pasti dong. Salah satu syarat wajib dari hampir semua IT consultant adalah siap dan tahan bekerja dibawah tekanan. Serem amat.

Lelet ada banyak macam. Tergantung konteks. Ada lelet sewaktu kita lagi kerja. Ini lelet yang biasa. Orang yang kerjanya lelet bukan berarti dia lelet dalam berpikir. Karena gue percaya semua orang bisa memecahkan semua masalahnya. Apakah itu masalah dalam pekerjaan ataupun masalah dalam asmara. Kemungkinan terbesar dia lelet adalah dia malu bertanya sesat dijalan. Mungkin dia berpikir sebenernya masalah dia adalah masalah sepele lalu akhirnya menjadi malu untuk bertanya pada orang lain. Itu persepsi yang salah besar. Gak tau ya tanya. Dari dulu sewaktu kita sekolah kita selalu di ingatkan oleh guru kita untuk selalu bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Apakah itu tanya sama gurunya langsung atau tanya sama temen. Atau mungkin dia ingin explore sendiri jawaban dari masalahnya. Yaa explore juga ada waktunya. Kalo dikantor gue sendiri ada peraturan bahwa “Jika stuck dalam 30 menit, langsung eskalasi”. Tapi kadang sering diabaikan oleh gue dan karyawan yang lain. Padahal kalo dipikir, itu akan memberikan kita hasil yang maksimal. Karena pekerjaan bisa terselesaikan dengan tepat waktu.

Yang kedua, lelet sewaktu lagi browsing. Nah ini biasanya ada istilah lola (loading lama). Browser belakangan ini semakin banyak fitur. Makin cepet. Katanya… Tapi alhasil kok rasanya makin lelet ?? Tunggu dulu. Lo install extensions apa aja ? Banyak extensions, means banyak proses. Banyak proses kalo memory RAM lo memadai si gak papa. Tapi kalo RAM cuma 2GB atau 4GB, trus lo install make bejibun extensions. Yah terima nasib aja lah. Dari tadi ngomongin extensions. Apa sih itu ? Extensions itu ini

image

image

image

Selain extensions ada juga yang namanya plug-ins. Plug-ins itu gak ada tampilan atau icon-nya. Plug-ins itu jalan kalo misalnya kita muter video di web. Misal, nonton youtube, vimeo, dsb. Plug-ins ini juga penting perannya dalam me-lelet-kan kompi kita. Jadi bijaklah dalam menggunakan browser.

Yang ketiga, lelet dalam merespon kata-kata temen. Misal, kita cerita tentang sesuatu ke temen kita, lalu kita minta pendapat dia. Trus dia dengan penuh kesungguhan ingin memberikan jawaban terbaik. Sehingga dia lelet merespon. Oke oke. kita setuju aja deh. Kalo ini kita bisa beri nama alias lain, yaitu oon. Oon ini juga salah satu lelet yang nyebelin. Semua lelet juga nyebelin om.. apalagi kalo dikerubutin lelet. Itu lalat bedon. Cara untuk menangani masalah lelet yang satu ini adalah cherish your life, embrace his/her life. Atau dengan kata lain. Bersabarlah dan jelaskan pelan-pelan denga penuh kasih sayang ke temen kita itu apa yang kita maksud. Dengan begitu mudah-mudahan leletnya menjadi terbantu. :)